AC Milan Forums  

Go Back   AC Milan Forums > AC MILAN > MilanMania International

Notices

 
 
Thread Tools Display Modes
Old 20-05-2010, 20:53   #9391

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
Isi Pidato SMI kemaren, selamat menyimak

Sri Mulyani, si Pembantu Laki-Laki Itu..

Pidato Sri Mulyani Indrawati di Ritz Carlton PP, Selasa malam, 18 Mei
2010. Pidato ditranskrip oleh Ririn Radiawati Kusuma (jurnalis Media
Indonesia).
----
Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus
Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan
etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa
grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil
orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi
egalitarian. Saya susah manggil 'Marsilam', selalu pakai 'pak', dan dia
marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung
dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk tangan) ;; Tapi saya
jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor,
kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya
sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal.
Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau
memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus
saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan. Dan
malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu
biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk
eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut
tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah
ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika
publik. Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah
lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya
tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu
laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus
menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih
pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk
kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak
berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini. Tapi
saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik.
Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan
harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan
sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu. Suatu penerimaan
jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya
saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang
pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat
pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk
kepentingan publik. Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang
seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk
siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh
keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya
ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu
untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik
dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok. Dan
sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI
untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah
rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan
hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu
merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat
publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain
saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.
Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari
5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu
kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir,
merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting.
Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang
disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu
mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur. Jadi kebijakan
pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan
publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh
institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu
proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya.
Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient
utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu
sangat mudah menggelincirkan kita. Kekuasaan selalu cenderung untuk
corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin
kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun
pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan
kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka
pertanyaan 'kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin
corrupt, apa yang harus saya lakukan?' Oleh karena itu, di dalam
proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita
daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi
juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan
kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada
hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem
pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari
Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya
bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri
Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir
corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu. Bayangkan,
seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun
sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas
1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.
(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang
terus langsung.... (ada air putih langsung datang diiringi ketawa
hadirin). Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola
atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana
melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang
tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia
kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.
Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus
membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita
sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk
menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan
dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan
berpikir untuk meng-abusenya. Barangkali itu istilah yang disebut
teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya
berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata 'bau'nya
tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya
tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine
product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial. Nah, di dalam
hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi
disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai
resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu,
internal maupun eksternal. Mungkin contoh untuk internal hari pertama
saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. "Tolong beri saya list
apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri." Biasanya mereka
bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya
menetri boleh semuanya termasuk mecat saya. Kalau seorang menteri
kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi
suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat
sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih
besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating
procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan
dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance. Karena kebijakan
publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk
memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada
anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan
seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi
kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan
ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu. Dan bahkan dengan
kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena
dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem.
Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan
pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.
Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu
anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti. Namun,
meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu,
dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa
pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa
yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita
sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau
tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati
kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan
bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam
diri kita. Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam
bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita
dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik,
pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika
pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita
inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan
guidance kepada kita. Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan
penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu
saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam
di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada
pura-pura sungguh-sungguh. Merek emngkritik begitu keras. Tapi kemudian
mereka dengan tenangnya mengatakan 'Ini adalah panggung politik bu.'
Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua
Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya.
Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena
saya tidak tahu karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu
saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem. Setiap keputusan,
statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras.
Saya tadinya cukup naif mengatakan, "Oh ini ongkos demokrasi yang harus
dibayar." Dan saya legowo saja dengan tenang menulis
pertanyaan-pertanya an mereka. Waktu sudah ditulis mereka keluar
ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya
dinasehati oleh Dirjen saya itu, "Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu.
Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. " Tapi kemudian itu
menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya
kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa
secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu
kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya,
apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita
dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat.
Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos
untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas
saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir
saya akan split personality. Waktu di dewan saya menjadi personality
yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah
saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung
yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk
seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya
dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah
malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos
yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan
dan ingin menjalankan secara konsisten. Nah, oleh karena itu, didalam
konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik
yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita
memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan
rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka,
menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi
lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur
politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak
hanya double standrart, triple standart. Dan bahkan kalau kita bicara
tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya
betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF,
pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju.
HAri pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika
sebagai seorang executive director, do dan don'ts. Disitu juga
disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu
institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level
internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam
proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik
kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya
melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik
kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa
membuat keputusan yang baik. Sehingga bekerja di institusi seperti itu
menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja
anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman
pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat
membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada
anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk
dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan
keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang
penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah
urusan sekunder. Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah
background nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah
meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya,
kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa' semuanya masih run. Dan dengan
tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau
dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?
i drop my job atau apa..bengong itu. Kita bingung bahwa ada suatu
keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya.
Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang
menimport adalah perusahaannya dia. Nah ini merupakan sesuatu hal yang
barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi
seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah
penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara
tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari
kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya
demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam
dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu
kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak. Ada suatu saat saya
membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa
perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah
komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan
dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan
silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita
lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman
saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, "Mba ani
jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar
juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu." Saya ingin
menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep
mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat
langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan
menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC
nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada
sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang
yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik
besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti 'Lihat saja Sri Mulyani,
neolib.' Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam
proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod
yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat
atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari
kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia
juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau
check terhadap CEO nya. Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan
mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan
eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang
luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat
tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri
keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya
tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban
personal. Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar
itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk.
Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan sya lihat struktur
gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura
tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau
mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah
anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat,
bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat
negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya
harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu
proses politik yang begitu sangat mahalnya. Sehingga memunculkan suatu
kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah
kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan
membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin
karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga
lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa
dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu
kolaborasi. pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal
ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah
proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan
struktur yang membentuk awalnya. KArena kebijakan publik adalah
hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi
adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal. Dan
itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi.
Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau
menjadibagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa
ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana
saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara
beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu
perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang. Kalau pada
hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada
yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal. red), kenapa kok Sri
Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah
suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau
apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki
di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu
sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel,
saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama.
(ketawa dan tepuktangan) Karena politik itu lebih banyak lakinya
daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai
politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik
tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika
publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi
sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima
tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada
diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati
dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat
painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya
tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan
prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang
kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh,
bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya
menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan)
Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul
sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan
ke matanya). Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa
menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak
ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9
argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti
kayaknya nyanyi aja balik terus nanti. Mungkin saya akan mengatakan
bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin
menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai
politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu
politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses
politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau
resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita
jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi.
Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus
dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan
mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar.
Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul
pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau
out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan
publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang
lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk
berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi
less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya
rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy. KArena
no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy
karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan
ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa
diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam di sandwich di dua hal itu.
Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus
berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak
sehingga kita bisa menemukan kesamaan. Nah kalau kita ingin kembali
kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini
atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari
ini adalah kelompok kelas menengah. YAng sangat sadar membayar pajak.
Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang
mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela,
anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini
tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah
kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan
dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di
tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh
berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk
ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan
semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk
pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia. Seolah-olah
sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya
keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga
bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua
bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan
banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran
pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, "Jangan pernah putus
asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada
masa-masa transisi yang sangat pelik. Kecintaan itu paling tidak akan
terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di
dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin
membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media
seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan
yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus. Saya ingin
memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul
genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik
sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka
punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka
tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak
boleh bersuara banyak tapi harus bekerja. Sebagian kecil adalah
kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse.
Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat.
Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk
dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara
ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi
dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk
dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan
sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya
bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk
membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk
tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan
saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri
keuangan. Saya rasa tidak juga. Suasana yang kita rasakan pada
minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan
negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya
proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya
menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia
harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai
pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia
harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap
pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya
kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau
tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain.
Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang
dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya.
Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang
seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin pak marsilam?
Wong semua orang dimarahin duluan sama dia. Mereka ada disana hanya
untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan
pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu
kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di
DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah
menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan
etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan
apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat
dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah
proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde
lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus
didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik
dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya
analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.
Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses
politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu
kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa
pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu
episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi
sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan
berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita
dibenturkan dengan realita-realita politik.

bersambung kebawah...
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 20-05-2010, 20:57   #9392

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
Dan untuk itu, saya hanya
ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah
Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang
menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu
loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin
mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan
keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh
siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini.
(applause) Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi
saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya
tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga
martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih
(standing applause) (Rrn)
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 20-05-2010, 21:23   #9393

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
Quote:
Originally Posted by Siregar View Post
40 juta euro sebenarnya mahal (kalo melihat penguatan euro). Harga ibra, kaka, ronaldo, benzema tahun lalu itu harga yang 'dibuat-buat'.
bukannya euro lg menukik tajam akibat krisis Yunani? harusnya msh reasonable buat pemaen sekelas Villa , yg udah terbukti di la liga,

dzeko aja mintanya 30 jt, tpi ga tau euro ato pound ...
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 20-05-2010, 22:06   #9394

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
Quote:
Originally Posted by Nalx View Post

Btw, gajinya Menkeu berapa si? Aq baca di detikcom, gaji Agus M sbg dirut Bank Mandiri Rp. 199 juta per bulan. Kalo aq sih emoh pindah kantor. Biar kata lebih bergengsi juga, tapi gengsi ga laku buat makan di warteg coy.

Jadi met bertugas aja buat mbak Sri dan mas Agus. Mas Anggito? Bali neng Yogjo wae dab. Hehe
kalo ga salah kemaren di detik.com, sekitar 20 jt / bulan , tapi blom ditambah tunjangan2 laennya, total kira2 bersih bisa 60 jt / bulan (klo jalannya 'ga lurus' , 0 nya tinggal ditambah dewe aja hehe)

sementara selain gaji, mas agus jg diperkirakan mendapat dividen kurang lebih 5.6 M di jabatan terakhirnya ,menurut detik.com jg hehe..

so,dgn meliat kalkulasi matematika diatas yg menunjukkan adanya penurunan pendapatan & saldo tabungan, bisa diasumsikan mas agus lebih memilih prestige menjadi seorang pejabat publik negara kesatuan RI, melayani & bersama2 Presiden & segenap kabinetnya membangun negara

















ga tau deh kalo ada motif laennya
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 00:45   #9395

Siregar

Registered User
 
Siregar's Avatar
 
Join Date: 02 2007
Location: Franken
Fave Players: Marco Ezio FOSSATI & Simone Andrea GANZ
Siregar is on a distinguished road
Quote:
Originally Posted by edysupriadi View Post
bukannya euro lg menukik tajam akibat krisis Yunani? harusnya msh reasonable buat pemaen sekelas Villa , yg udah terbukti di la liga,

dzeko aja mintanya 30 jt, tpi ga tau euro ato pound ...
seturun2nya euro tetap aja masih jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun yang lalu.

kalo mengenai harga minta dzeko, kita ga bisa jadikan patokan. harga terakhir yang masih wajar menurutku jaman Torres pindah ke Liverpool. itu udah kelas striker hebat (meski di situ masih ada semacam perjudian yang milan ga berani masuk ke dalamnya).
Siregar is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 01:22   #9396

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
http://www.youtube.com/watch?v=26rAtEWovug

penasaran toh ama yg namanya Mario Fernandez Gremio? hehe noh cuplikan gim Flamengo vs Gremio, fullback dgn no punggung 2 , meliat dia bagaikan melihat 'Kaka' di posisi tsb, scr postur, dribbling, cuman ini yg versi bertahan nya haha..

Last edited by edysupriadi; 21-05-2010 at 01:38.
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 02:30   #9397

Peachtot

Registered User
 
Peachtot's Avatar
 
Join Date: 04 2001
Fave Players: San Marco, Zvone Boban
Peachtot is on a distinguished road
capeee juga baca pidato nya. om edy tolong lain kali klo artikelnya panjang ya mbok dibuat bunga, emoticon ato pic2 kyk liv tyler biar adem mata ini

balik ke bola, pemain argie si otamendi itu mainnya gimana ? kq banyak yg nyebut2 namanya akhir2 ini
__________________
In my solitude night, I dream on you..
In my busy working day, I'm thinking of you..
In my every single holy prayer, mostly I call ur name..
Oh LOrd, if this one isn't coming from Thou, set us far away...
But if she is, tie us and bless with Thy shiny face...
Peachtot is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 03:31   #9398

Siregar

Registered User
 
Siregar's Avatar
 
Join Date: 02 2007
Location: Franken
Fave Players: Marco Ezio FOSSATI & Simone Andrea GANZ
Siregar is on a distinguished road
Quote:
Originally Posted by Peachtot View Post
capeee juga baca pidato nya. om edy tolong lain kali klo artikelnya panjang ya mbok dibuat bunga, emoticon ato pic2 kyk liv tyler biar adem mata ini

balik ke bola, pemain argie si otamendi itu mainnya gimana ? kq banyak yg nyebut2 namanya akhir2 ini
ga ngerti juga aku kok bisa milan tertarik ama dia. konon katanya dia itu next samuel. tapi aku lebih percaya ama scout brazil kita, si Brasileiro. pemain yang disarankannya pun masuk akal alias sesuai dengan kebijakan transfer kita belakangan ini, murah meriah: Jucilei, Arouca dan Fernandez. asumsi dia si bek kanan fernandez punya pass italia.

yang ngelink ama kita si jucilei ama satu lagi bek muda brasil, toloi. tapi berita tentang toloi cuman 1 sumber itupun bahasa brasil apa portugal. setelah ditanya ama si brasileiro, ga ada berita tentang ketertarikan milan ama itu pemain di brasil sono. toloi katanya mirip nesta gaya maennya cuman si brasileiro masih merasa ada sesuatu yang kurang dengan pemain ini (cuman katanya feeling dia aja alias ga seperti pas nyaranin pemain² lain kaya alex dan bek muda yg maen di portugal). kalo menurut goal.com, dia jadi partnernya albertazzi di sektor bek tengah pada formasi 11 pemain terbaik piala dunia U-20 barusan.
Siregar is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 04:10   #9399

Peachtot

Registered User
 
Peachtot's Avatar
 
Join Date: 04 2001
Fave Players: San Marco, Zvone Boban
Peachtot is on a distinguished road
tentang alex (chelsea) aku yakin di pildun nanti dunga akan memilih juan utk nemani lucio di CB. Utk ke depan aku juga lbh yakin thiago silva yg lebih mantabe ketimbang alex. kuliat beberapa kali di chelsea, dia mudah digoyang dan covering nya kurang baik.

marcelo (madrid) juga ga dipanggil dunga. gilberto yg lebih bertahan keknya bakal ngisi full back kiri

dari spain, secara mengejutkan del bosque tdk memanggil negredo di 23 pemainnya. padahal mainnya mantabe kali musim ini. guiza juga ga dipanggil ntah ngapain pun dia di fenerbache sana dan marcos senna juga ga dipanggil
keknya di starting XI nya del bosque cuma beda 3 org dgn starter spain di euro 08
__________________
In my solitude night, I dream on you..
In my busy working day, I'm thinking of you..
In my every single holy prayer, mostly I call ur name..
Oh LOrd, if this one isn't coming from Thou, set us far away...
But if she is, tie us and bless with Thy shiny face...
Peachtot is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 04:12   #9400

Siregar

Registered User
 
Siregar's Avatar
 
Join Date: 02 2007
Location: Franken
Fave Players: Marco Ezio FOSSATI & Simone Andrea GANZ
Siregar is on a distinguished road
Yoi, Silva generasi penerus bangsa dan Milan.
Siregar is offline   Reply With Quote
Old 21-05-2010, 04:18   #9401

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
Quote:
Originally Posted by Peachtot View Post
balik ke bola, pemain argie si otamendi itu mainnya gimana ? kq banyak yg nyebut2 namanya akhir2 ini
haha Otamendi pemaen velez, yg termasuk dalam provisional squad Diego, aku jg baru denger namanya kemaren di forum sebelah, ga ada berita yg jelas/ resmi mengenai ketertarikan kita, ehh gayung bersambut, si pemain mengatakan 'I dream of playing for Milan ' jg, tunggu aja lamaan dikit buat dipinang, ntar palingan kyk Dzeko yg cintanya udah memudar .. hehe tapi bener kt Om Siregar, si Brasileiro ga recommend dia, yg masuk itungan yah trio 'macan' itu Jucilei, Arouca, Fernandez, yg perkiraaan cukup dgn dana skitar 15-20 jt

dgn minimal 3 org itu, Milan ada peluang tuk 'dibangkitkan' lagi ...
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 22-05-2010, 13:44   #9402

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
ayo Robben, sikat merda ! Forza Munich !
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 22-05-2010, 14:16   #9403

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
sial merda, maen 6-3-1 ngomongnya 4-3-3!!! ayo Olic ! Majulah Jerman !!
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 22-05-2010, 14:47   #9404

edysupriadi

Registered User
 
edysupriadi's Avatar
 
Join Date: 05 2006
Location: the most peaceful city , JAMBI - INDONESIA
Fave Players: Maldini, Nesta, Pippo, Cantona, Kaka
edysupriadi is on a distinguished road
Massimiliano Allegri?! tanya kenapa
edysupriadi is offline   Reply With Quote
Old 22-05-2010, 14:54   #9405

Siregar

Registered User
 
Siregar's Avatar
 
Join Date: 02 2007
Location: Franken
Fave Players: Marco Ezio FOSSATI & Simone Andrea GANZ
Siregar is on a distinguished road
Memang kenapa?
Siregar is offline   Reply With Quote
 


Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is Off
HTML code is Off


All times are GMT -5. The time now is 14:03.


Powered by vBulletin®
Copyright ©2000 - 2026, Jelsoft Enterprises Ltd.